Dua tahun jadi pekerja lepas, gue belajar satu hal yang nggak pernah diajarin di tempat kerja sebelumnya: kadang pengen liburan itu bukan soal bosan, tapi soal otak yang udah kepenuhan tenggat. Bulan lalu, tepat setelah satu proyek besar kelar dan klien transfer pelunasan, gue memutuskan kabur ke Bromo. Bukan paket tur, bukan sewa jeep, cuma tiket bus malam dan nekat.
Keputusan ini sebenarnya lahir dari dompet yang nggak setebal keinginan. Sewa jeep ke Penanjakan itu mahal, dan gue nggak punya teman sekantor buat patungan. Jadi ya sudah, gue berangkat sendirian dengan ransel kecil dan tekad yang agak goyah.
Berangkat Malam, Sampai Subuh, dan Langsung Menyesal
Bus dari Surabaya berangkat sekitar jam sembilan malam. Gue duduk di sebelah bapak-bapak yang tidurnya ngorok sepanjang jalan, jadi bisa ditebak, gue nggak tidur sama sekali. Sampai di Probolinggo sekitar jam tiga pagi, udara dingin langsung nyamber. Terminalnya masih sepi, warung kopi baru buka, dan gue duduk di bangku panjang sambil mikir, "ini kenapa gue lakukan ya?"
Baca juga: Kerja Remote Bikin Jenuh? Kabur Sebulan ke Lombok, Ini Biayanya
Dari terminal, ada angkutan menuju Desa Ngadisari. Ongkosnya jauh lebih murah dibanding jeep. Tapi konsekuensinya jelas: jalanan berkelok, kendaraannya penuh, dan gue duduk di lantai sambil pegangan erat sama tiang. Nggak nyaman, tapi justru di situ gue ketemu tiga orang asing yang ternyata juga pekerja lepas. Satu desainer grafis, satu penulis konten, satu lagi penerjemah. Kita ngobrol soal klien yang suka revisi tengah malam kayak udah kenal lama.
Pelajaran pertama: kadang rezeki itu bukan cuma uang, tapi teman seperjalanan yang ngerti kenapa kamu butuh kabur sebentar.
Nggak Naik Jeep, Tetap Bisa Lihat Matahari Terbit
Banyak orang mikir ke Bromo itu wajib sewa jeep. Padahal buat gue yang budgetnya mepet, jalan kaki dari penginapan ke titik pandang itu masih masuk akal. Gue nginep di homestay sederhana, satu malam, harga di bawah seratus ribu. Kamarnya kecil, air panasnya nggak jalan, tapi selimutnya tebal dan pemiliknya ramah banget.
Jam tiga pagi gue bangun, bikin kopi sachet, lalu jalan kaki sekitar empat puluh menit ke arah Penanjakan. Gelap, dingin, dan gue sempat nyasar karena nggak bawa senter. Tapi begitu sampai di atas dan langit mulai berwarna oranye, semua rasa capek itu hilang. Bromo dengan asap tipis di kawahnya, dikelilingi lautan pasir, kelihatan seperti lukisan yang terlalu bagus buat difoto pakai HP jadul.
Yang Nggak Ada di Itinerary Mana Pun
Di titik pandang itu, gue duduk di samping seorang bapak paruh baya yang ternyata juga kerja remote. Dia cerita kalau tiap dua bulan dia sengaja ambil satu minggu buat jalan tanpa agenda. Katanya, "Kalau kerja terus tanpa jeda, kepala jadi mesin, bukan otak." Gue diem sebentar, karena kalimat itu kena banget.
Sejak itu, gue mulai ngeliat liburan bukan sebagai reward, tapi kebutuhan. Bukan karena gue punya banyak uang, justru karena gue nggak punya banyak uang, jadi harus pintar milih cara beristirahat.
Yang Gue Bawa Pulang Selain Foto dan Pilek
Total pengeluaran gue selama dua hari satu malam di Bromo nggak sampai lima ratus ribu. Itu termasuk bus, angkutan, homestay, makan, dan tiket masuk. Jauh lebih murah dari paket tur yang gue lihat di internet. Tapi yang lebih penting, gue pulang dengan beberapa catatan yang mungkin berguna buat kamu yang juga kerja lepas:
- Rencana itu penting, tapi nggak harus kaku. Gue nggak bikin itinerary detail, cuma catat jam bus dan nomor homestay. Sisanya gue ikutin alur.
- Nebeng transportasi lokal itu bukan cuma hemat, tapi lebih jujur. Kamu ketemu orang yang benar-benar tinggal di sana, bukan cuma sesama turis.
- Cek cuaca dan bawa jaket yang benar. Ini klise, tapi gue tetap kedinginan karena ngeremehin suhu subuh Bromo.
- Jangan bawa laptop. Serius. Gue hampir bawa, untung urung. Dua hari itu gue nggak buka email sama sekali, dan dunia nggak runtuh.
Ada satu hal lagi yang gue sadari setelah pulang. Selama ini gue sering nunda liburan karena nunggu proyek selesai. Padahal proyek nggak pernah benar-benar selesai, selalu ada revisi, selalu ada klien baru. Kalau nunggu semuanya beres, kamu nggak akan pernah berangkat.
Buat yang Kerjanya Nggak Kenal Jam Kantor
Jadi pekerja lepas itu semacam pedang bermata dua. Di satu sisi kamu bebas ngatur waktu, di sisi lain kamu nggak pernah benar-benar off. Nah, perjalanan kayak gini jadi semacam paksaan halus buat otak kamu supaya berhenti sebentar. Nggak perlu jauh-jauh, nggak perlu mahal. Bromo aja cukup buat gue yang cuma punya dua hari dan modal pas-pasan.
Kalau kamu lagi capek sama rutinitas yang nggak ada ujungnya, coba deh cari satu tempat yang bisa kamu jangkau dengan bus malam. Nggak usah mikir lama. Kadang yang kamu butuhin bukan liburan mewah, tapi keberanian buat bilang "gue butuh jeda" ke diri sendiri, dan benar-benar berangkat.
Gue pulang ke rumah dengan pilek ringan, jaket bau asap, dan kepala yang jauh lebih ringan. Besoknya, gue buka laptop dan kerja lagi. Tapi kali ini, gue kerja sambil senyum, karena tau kapan harus berhenti sebentar.